#KodeNusantaraBlog

Cik Mia, Sosok di balik Kesuksesan Kain Songket Jambi

Kain songket, siapa yang tidak mengenalnya? Kain songket merupakan jenis kain tenunan tradisional Melayu dan Minangkabau di Indonesia. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak pada umumnya. Songket biasanya dikenakan pada acara-acara resmi. Kain songket di setiap daerah memiliki ciri khas dan motifnya masing-masing. Saat ini, para pengrajin kain songket sudah mulai berkurang. Bagi para pecinta kain songket, mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kata Ibu Cik Mia. Penasaran siapakah Ibu Cik Mia ini? Yuk kita simak penjelasannya!

Ibu Cik Mia, wanita bernama asli Mania yang lahir di Kota Palembang, 16 Agustus 1977 ini merupakan seorang penenun kain songket Palembang di Jambi. Ibu Cik Mia merupakan penerus generasi ketiga dari keluarga pengrajin songket di Kampung 30 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Tahun 1999 merupakan tahun di mana Ia mulai untuk membuka usaha, yang berawal dari hobinya menenun hingga beliau mendapat penghasilan dari usahanya. Bermodalkan uang sisa belanjaan kebutuhan rumah tangga, Ibu Cik Mia kemudian membeli alat tenun dan bahan kain. Meskipun Ia tinggal di Jambi, hasil kain songket yang sudah jadi tetap dijual ke Palembang. Begitu melihat keuntungannya, Ia kemudian berniat menjual kain songketnya di kota yang Ia tinggali saat ini, yakni Jambi.

Perjalanan dalam membuka usaha tidak luput dari suka duka. Jatuh bangun yang dialami oleh Ibu Cik Mia rasanya sudah cukup untuk membuat dirinya seakan menyerah, tetapi karena tekadnya yang kuat, Ia dapat melalui segala kesulitan yang menerpa. Duka dimulai dari betapa susahnya membuka usaha dengan alat seadanya. Betapa susahnya menawarkan kain ke rumah-rumah warga bahkan Ia pernah mendapatkan pesanan kain di mana begitu sudah selesai dan siap antar, ternyata yang memesannya sudah meninggal.

Setelah menjalani berbagai macam hal, pada akhirnya banyak masyarakat Jambi yang terpikat dengan songket buatan Ibu Cik Mia. Melihat akan hal tersebut, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi di tahun 2003 mengajak Ibu Cik Mia untuk bekerjasama. Dekranasda membina dan mendidik Ibu Cik Mia agar menjadi pebisnis yang profesional, dan mereka juga meminta untuk tidak hanya membuat songket Palembang, tetapi juga membuat kain songket khas Jambi. Tidak mudah bagi Ibu Cik Mia untuk membuat songket Jambi, Ia harus mencari tahu mengenai motif kain Jambi melalui pergi ke museum dan menemui beberapa ahli sejarah untuk mempelajarinya.

sumber: news.indotrading.com

Ibu Cik Mia juga memodifikasi motif-motif klasik Jambi itu dengan motif hasil kreasinya. Tidak hanya motif tenun songket yang ia kembangkan, tetapi perpaduan warna untuk kain songket itu pun disesuaikan dengan tren.

Dengan menggunakan alat tenun bukan mesin, dari tangan Ibu Cik Mia terciptalah kain-kain songket yang indah, baik motif maupun perpaduan warnanya. Ia mencontohkan, benang sulur adalah motif klasik yang sering dipakai untuk sulaman benang emas bagi kaum perempuan pada masa lalu. Motif itu ia padukan dengan benang emas yang sangat halus. Maka, hasilnya adalah tenun songket dengan benang berwarna emas mengilap, tetapi tetap lentur.

Sesuai dengan kalimat bahwa “usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil” sepertinya memang terjadi pada Ibu Cik Mia. Kini berkat dirinya, kain songket Jambi kembali hidup. Beragam kegiatan pameran telah dijalani, beberapa penghargaan pun juga telah diraih. Ibu Cik Mia saat ini memiliki kurang lebih 20 pengrajin songket yang tersebar di seluruh Kabupaten di Kota Jambi.

Para perempuan itu semuanya berasal dari kalangan Ibu Rumah Tangga. Mereka diajak Ibu Cik Mia menjadi pengrajin tenun songket. Mereka tersebar di tiga daerah, yakni Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Batanghari.

Menurut Ibu tiga anak ini, penenunan songket Jambi relatif rumit sehingga menghabiskan waktu satu hingga dua bulan untuk satu potong kain. Lamanya waktu yang dibutuhkan sangat bergantung pada kerumitan motif dan perpaduan warnanya.

Dengan segala kerumitan pembuatan tenun songket, tak heran jika songket yang dipajang di ruang pamer di rumahnya hampir selalu habis dibeli pengunjung. Harga songket buatannya amat beragam, mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 7 juta per potong kain.

Ibu Cik Mia tidak mau memaksa para pengrajin untuk cepat-cepat menyelesaikan kain. Menurut dia, menenun itu adalah bagian dari seni. Karena itu, agar hasilnya optimal, mengerjakannya pun sebaiknya serius dan memakai perasaan. Kalau hati seorang pengrajin sedang tidak nyaman, dia harus berhenti dulu dari kegiatan menenun.

Karena keahliannya pula, Ibu Cik Mia sering diajak mengikuti pameran songket yang diadakan Dekranasda. Bahkan, pada 2006 Ia diminta Dekranasda dan Disperindagkop untuk mengajar menenun di berbagai pelatihan tenun di sejumlah kabupaten dalam Provinsi Jambi.

Tak hanya itu, pada 2009, Ia mewakili Provinsi Jambi mengikuti pameran songket yang diadakan Dekranas Pusat dan mendapat penghargaan Kreasi Terbaik se-Indonesia. Lalu, pada 2012, Ia mewakili Provinsi Jambi mengikuti pameran di Den Haag, Belanda.

Berbagai kegiatan pelestarian songket Jambi Ia ikuti. Salah satunya Inacraft (2009). Ia menerima penghargaan dari Gubernur Jambi sebagai pelestari songket, serta mewakili Jambi pada pameran Harkopnas di Medan (Juni 2014).

Kain songket miliknya saat ini sudah tersebar sampai ranah internasional, yakni sudah dipasarkan sampai ke Malaysia, Singapura, hingga Australia. Kini Ibu Cik Mia tercatat sebagai salah satu pengajar di rumah tenun milik Dekranasda Provinsi Jambi. Dia berharap agar generasi muda Jambi tergerak untuk melestarikan songket dan belajar menenun. Ia juga semakin paham dan tahu mengenai beragam motif kain Jambi, karena siapa sangka bahwa ada pengetahuan yang terkuak ketika kita berhenti melihat budaya sebagai tradisi belaka. Jejak-jejak matematika dalam motif kain menjelaskan bahwa ketika sains dan teknologi mutakhir diarahkan, dapat memberi inspirasi bagi kemanusiaan untuk berkreasi kreatif dan berinovasi modern seperti yang tertuang dalam buku Kode-Kode Nusantara.


Sumber:

Wikipedia – Songket

Indo Trading – Jatuh Bangun Cik Mia Bangun Bisnis Penjualan Songket Terkendi Jambi

Kompas – Cik Mia Menghidupkan Songket Jambi

Info Lanjut:

PDBI – Jambi

PDBI – Kain Songket Palembang

Previous post

Kesaktian Do’a Ibu dalam Cerita Rakyat Indonesia

Next post

Gegerit, Kisah Perjuangan Perempuan dalam Tarian

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.