#KodeNusantara#NusaKulinerBlog

Kerupuk Melarat, Camilan Unik Buatan Ibu-Ibu dari Kota Udang

Kerupuk. Siapa yang tidak suka kerupuk? Mulai sebagai camilan hingga pendamping nasi hangat, sebagian besar dari kita tidak akan lupa si kering renyah yang satu ini. Kerupuk udang, kerupuk ikan, dan kerupuk aci tentulah sudah sangat familiar bagi kita semua. Terdapat satu jenis kerupuk yang sudah sangat legendaris dari Kota Udang alias Kota Cirebon yang terletak di Jawa Barat, yakni Kerupuk Melarat!

Tentunya kita akan kaget jika baru pertama kali mendengar namanya. Meskipun begitu, kerupuk ini memiliki cita rasa khas nan lezat yang disukai oleh segala jenis kalangan. Penamaan meralat pun bukan tanpa alasan, dengan kondisi perekonomian yang kurang baik pada tahun 1900-an, warga Cirebon kesulitan mendapatkan bahan pangan khususnya minyak goreng. Kondisi yang sulit tidak membuat warga berhenti untuk berinovasi dengan bahan yang ada. Dengan segala keterbatasan, mereka membuat Kerupuk Melarat. Ketidak-adaan minyak goreng membuat mereka menggoreng menggunakan pasir yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Cara ini dikenal dengan istilah yang lebih populer, yaitu sangrai. Kerupuk berbahan tepung tapioka ini perlahan dicintai warga Cirebon dan Indonesia hingga saat ini.

Tak berhenti di situ, kreativitas warga pun kembali muncul setelah adanya Kerupuk Melarat. Selain sebagai pendamping nasi hangat, kerupuk melarat juga dijadikan camilan, dengan saus kacang atau saus sambal, serta dengan adanya tambahan lain seperti bala-bala dan tahu goreng. Sesuai namanya, harga Kerupuk Melarat tidak mahal dan sangat terjangkau oleh seluruh elemen masyarakat.

Jika Anda ingin menikmati gurihnya Kerupuk Melarat, Anda bisa berkunjung ke desa kecil bernama Gesik di Cirebon. Nyaris seluruh warga Gesik menggantungkan hidupnya dari kerupuk yang resepnya diperoleh secara turun temurun ini.

Salah satu warga Gesik yang juga membuat kerupuk melarat adalah Hj. Eli Marliyah. Ia mengaku sudah puluhan tahun memproduksi kerupuk dari rumahnya yang sederhana. Resep kerupuk didapat Ibu Eli dari keluarga suaminya. Hampir semua saudara suaminya memang pembuat kerupuk.

Perempuan kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, sendiri baru menekuni usaha ini ketika menikah dengan suaminya. Ia hanya menjual kerupuk mentah yang kemudian dijual ke pabrik. Karena masih dibuat secara tradisional, maka hasil produksinya sangat tergantung dengan cuaca. Bila sedang musim panas, produksi bisa meningkat, tapi bila musim hujan kadang merugi.

Ibu Eli bercerita, tenaga kerja dalam proses pengolahan produksi usaha kerupuk melarat ini sepenuhnya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat setempat yang didominasi oleh Ibu-ibu rumah tangga. Dengan diberdayakannya masyarakat setempat beliau mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya dan tidak perlu bersusah payah merekrut tenaga kerja dari luar.

Dengan memanfaatkan dapur dan halaman belakang rumah, Ibu Eli selaku pemilik usaha berhasil menyulap rumahnya menjadi ladang bisnis. Selain terus melestarikan kuliner nusantara, Ibu Eli tidak  hanya sekedar turut berperan menopang perekonomian keluarganya, namun juga berhasil menciptakan lapangan kerja bagi desanya. Ibu Eli merupakan salah satu sosok Ibu yang inspiratif, di mana dalam kesibukannya mengurus rumah tangga, Ibu Eli juga berhasil menjadi seorang wirausaha yang mengajarkan arti kemandirian. Kegigihan beliau menyelesaikan dua tanggung jawab sekaligus menunjukkan bahwa beliau adalah seorang sosok Ibu yang kuat. Kerja kerasnya membangun usaha dan dedikasinya bagi keluarga menjadikannya sosok panutan yang mampu berpijak di atas kaki sendiri dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Sumber:

https://budaya-indonesia.org/Kerupuk-Melarat-Cemilan-Unik-dari-Kota-Udang/

http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/geliat-usaha-kerupuk-melarat-di-kampung.html

https://masyona.blogspot.com/2016/06/produksi-kerupuk-melarat-di-desa-gesik.html

 

Sumber gambar:

http://bobo.grid.id/read/08677706/mares-kerupuk-gurih-tanpa-minyak?page=all

http://jabar.tribunnews.com/2018/09/13/cerita-pengusaha-kerupuk-melarat-yang-kini-merasa-melarat-akibat-melambungnya-harga-aci?page=2

http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/geliat-usaha-kerupuk-melarat-di-kampung.html

Previous post

Hari Ibu, Jejak Perjuangan Perempuan di Indonesia

Next post

Ibu Suki Pelestari Kue Bajingan Khas Pacitan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.