#KodeNusantaraBlog

Hari Ibu, Jejak Perjuangan Perempuan di Indonesia

Kasih ibu,

Kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa.

Hanya memberi,

Tak harap kembali

Bagai sang surya, menyinari dunia

Lirik lagu anak-anak yang sudah akrab di telinga kita semenjak kecil ini sangat tepat untuk menggambarkan kasih sayang seorang ibu. Sebagai anak, rasanya tidak akan sanggup membalas jasa dan kasih sayang yang telah diberikan oleh ibu kepada kita. Peringatan Hari Ibu di Indonesia merupakan hari spesial, simbolisasi penghargaan terhadap perempuan yang sudah berjuang untuk keluarganya.

Tahukah kamu peringatan Hari Ibu tidak hanya untuk mengingat dan menghargai perjuangan seorang Ibu, namun juga merekam jejak perjuangan para perempuan di Indonesia, bahkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia ?

Peringatan Hari Ibu berawal dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 30 organisasi perempuan di 12 kota yang berada di Pulau Jawa dan Sumatera  dalam Kongres Perempuan Indonesia I. Kongres yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928 bertujuan untuk mempersatukan  perempuan dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, serta memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan dan pernikahan.

(sumber: padamu.net)

Akhirnya, pada Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung pada tahun 1938 menyatakan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai “Hari Ibu” di mana perempuan Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan generasi baru akan kewajiban kebangsaan, Ia berkewajiban menjadi “Ibu Bangsa”. Tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu kemudian diresmikan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Peringatan Hari Ibu berlangsung hingga hari ini sebagai hari yang didedikasikan untuk seluruh Ibu di Indonesia atas perannya, baik di dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial di sekitarnya.

Mari kita tengok tokoh perjuangan perempuan-perempuan Indonesia yang berperan dalam Kongres Perempuan Indonesia.

Sujatin Kartowiyono

Nona Sujatin Kartowiyono merupakan pengurus Poetri Indonesia yang juga mendapat mandat sebagai Ketua Pelaksana Kongres. Beliau adalah salah satu tokoh perempuan yang mengorbankan kehidupan pribadinya demi memperjuangkan perempuan dan kemerdekaan Indonesia. Beliau merelakan pertunangannya berakhir untuk dapat mengikuti Kongres.

Ibu Sujatin Kartowijono (sumber : wartafeminis.com)

Beliau juga terkenal berani untuk berpidato di radio dan berbagai pertemuan yang menentang penindasan terhadap perempuan, hingga menjadi Target Operasional pada masa penjajahan Jepang. Selain memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, beliau juga memperjuangkan perkawinan yang adil bagi perempuan dan laki-laki, khususnya menolak poligami.

Nyi Hajar Dewantara

Nyi Hajar Dewantara memiliki nama asli R.A Sutartinah bersama dengan suaminya, Ki Hajar Dewantara aktif dalam pendidikan yang berkebudayaan dan berkarakter. Beliau bersekolah guru dan mengajar sambil melakukan perlawanan terhadap kolonial.

Nyi Hajar Dewantara bersama suaminya (sumber: wartafeminis.com)

Nyi Hajar Dewantara memiliki kemampuan jurnalistik yang tertuang dalam artikel-artikel kewanitaan di berbagai surat kabar dan siaran-siaran radio. Beliau bersama suaminya memiliki pikiran yang sama untuk meningkatkan usaha pergerakan kaum wanita dan menyatukan seluruh gerakan perempuan Indonesia ke dalam suatu wadah. Sehingga akhirnya terbentuklah Kongres Perempuan Indonesia, di mana perempuan-perempuan Indonesia berkumpul untuk memperjuangkan hak-haknya.

A Soekonto

R.A Soekonto yang memiliki nama asli Siti Aminah adalah perwakilan dari Wanita Tomo. Beliau merupakan istri dari Boedi Oetomo dan kakak kandung dari Ali Sastroamidjojo. Karena suaminya merupakan seorang dokter yang mengharuskannya bertempat tugas di berbagai daerah di Jawa, beliau berkesempatan untuk melihat kehidupan perempuan-perempuan di luar Yogyakarta. Tidak banyak catatan-catatan yang penulis temukan tentang perjuangan R.A Soekonto, sehingga penelusuran lebih lanjut perlu dilakukan. Namun, penulis yakin perannya sangatlah berarti bagi perjuangan perempuan Indonesia.

Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan Hari Ibu di negara-negara lain, karena pada dasarnya kita sedang mengenang perjuangan-perjuangan perempuan Indonesia pada masa penjajahan. Tanpa perjuangan mereka, perempuan-perempuan di Indonesia bisa jadi masih kehilangan hak-haknya. Jadi, selamat Hari Ibu untuk perempuan-perempuan hebat di Indonesia!

 

Sumber:

https://news.okezone.com/read/2017/12/22/337/1834277/sejarah-hari-ibu-saat-kaum-perempuan-indonesia-ikut-perjuangkan-kemerdekaan

https://www.padamu.net/sejarah-kongres-perempuan-indonesia

https://wartafeminis.com/tag/r-a-soekonto/

Previous post

Cara Unik “Ngopi” di Banyuwangi

Next post

Kerupuk Melarat, Camilan Unik Buatan Ibu-Ibu dari Kota Udang

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.