BeritaBlog

Rohana Kudus, Sosok lain dari “Ia yang Disayangi Setiap Generasi”

INFOBUDAYA.NET — Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ayu Kartini (Raden Adjeng Kartini), seorang pahlawan nasional perempuan yang merupakan pelopor pejuang hak-hak perempuan. Mengenai Hari Kartini, apa yang akan ada di pikiran kita? Apakah selebrasi dengan memakai kebaya, menyanggul rambut dan kembali berdandan seperti wanita Jawa?

Atau, hari itu dimaknai dengan menjadi seorang wanita yang benar-benar luar biasa, luar biasa menjadi wanita seutuhnya sesuai kodratnya, luar biasa meraih cita-cita, membangun diri menjadi sosok yang menginspirasi hingga menjadi istri yang tetap patuh pada suami namun juga berprestasi dan mantap berkarya di luar sana?

Bicara tentang tokoh pendidikan dan pelopor emansipasi kaum perempuan, sebagian besar masyarakat tentu lebih mengenal R. A. Kartini. Memang, banyak tokoh perempuan hebat yang menjadi pahlawan pendidikan dan kesetaraan gender bagi perempuan. Salah satu dari perempuan hebat tersebut adalah Rohana Kudus, seorang perempuan multitalenta dari Tanah Minang, Sumatera Barat.

Perempuan kelahiran Koto Gadang ini tak sering disebut saat kita bicara soal pahlawan perempuan di negeri ini. Namun, jika mendidik masyarakat melalui media massa dianggap salah satu cara mujarab mencerdaskan masyarakat, Rohana Kudus adalah sosok pionir.  Dia adalah jurnalis perempuan pertama di negeri ini. Rohana juga sebagai penggerak emansipasi kaum hawa yang dianggap banyak pihak, lebih layak didaulat sebagai pahlawan dibandingkan R. A. Kartini.

Kiprah Rohana Kudus

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang berprofesi sebagai jurnalis. Sedangkan ibunya bernama Kiam yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga bibi dari penyair Chairil Anwar. Dia juga merupakan sepupu dari KH Agus Salim.

Kendati tak mengecap pendidikan formal, perempuan berdarah Minangkabau tersebut tetap bisa belajar membaca dan menulis dari sang ayah yang selalu membawakannya buku usai bekerja. Di usia yang masih belia, dia menguasai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu.

Terlebih saat ayahnya dipindahtugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan istri pejabat Belanda yang suka rela mengajarinya menjahit, merajut, dan menyulam. Dia juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, serta pendidikan di Eropa.

Di usia 24 tahun, Rohana kembali ke kampung halaman dan menikah dengan seorang notaris bernama Abdul Kudus. Pernikahan tak lantas membuat Rohana terkungkung di dapur, sumur, dan kasur seperti perempuan-perempuan lainnya. Sebagai perempuan yang hidup sezaman dengan R. A. Kartini, dia berhasil menjadi jurnalis perempuan pertama yang dimiliki Indonesia.

Pada 10 Juli 1912, dia mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu. Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya perempuan. Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia.

Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik. Sebagai pendiri media yang anti Belanda, kehadiran Rohana Kudus dianggap sebagai ancaman. Tulisan-tulisan yang diterbitkan Rohana sangat keras melawan Belanda, sehingga negeri tulip tersebut enggan memberikan dukungan. Berbeda halnya dengan R. A. Kartini, citra baik Belanda tergambar dalam surat-menyuratnya dengan Mdm Abendanon. Belanda pun menasbihkan Kartini sebagai tokoh emansipasi meskipun rela dipoligami.

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini, dia menggambarkan seolah-olah seluruh perempuan Indonesia tertindas. Faktanya, ada sosok Rohana Kudus yang hidup sezaman dengannya dan berhasil keluar dari belenggu patriarki. Rohana Kudus memperjuangkan hak-hak perempuan melalui media massa, pendidikan, hingga bidang ekonomi.

Emansipasi perempuan menurutnya, kaum hawa tidaklah harus melampaui laki-laki. Baginya, yang terpenting adalah perempuan tetap pada kodratnya, namun mesti berpendidikan dan mendapat perlakuan yang lebih baik.

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. – Rohana Kudus

 

Sumber:

Kompasiana – Mengenal Rohana Kudus

IDN Times – Melacak Jejak Rohana Kudus

Previous post

Watak Perempuan Bugis Makassar dalam Tarian Pakarena

Next post

Jepara, Kota Kelahiran Kartini dengan Pesona Kulinernya

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.