#KodeNusantaraBerita

Pembollo dan Pejappi, Tradisi Masyarakat Adat Kaluppini Mengobati Penyakit

Saat dunia pengetahuan dan dunia medis telah berkembang pesat, kita akan sangat mudah berkonsultasi dengan dokter tentang sakit yang dialami dan meminta resep obat yang harus diminum. Kira-kira, bagaimanakah masyarakat zaman dulu yang belum mengenal ilmu pengetahuan dan dunia medis menjaga kesehatan dan mengobati penyakit?

Ada tuturan dan aturan yang dijalani banyak masyarakat Indonesia di berbagai wilayah untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Misalnya saja, masyarakat di Tegal, Jawa Tengah, menggunakan asap tangkai padi untuk mengobati infeksi saluran kemih dan penggunaan kain sasirangan untuk mengobati demam bagi masyarakat suku Banjar, Kalimantan Selatan. Selain metode-metode tersebut, ada pula upaya meracik tanaman untuk mengobati penyakit yang dilakukan oleh masyarakat adat Kaluppini, di Enrekang, Sulawesi Selatan.

Masyarakat Kaluppini memiliki pembollo, yakni racikan tanaman obat untuk anak-anak. Pembollo diracik dari bahan-bahan seperti kunyit, bawang merah, merica, daun paria, bawang merah, panini, kencur, merica, kalongkong (kelapa yang masih kecil) dan ralle. Bahan-bahan ini biasanya juga dicampur dengan air kelapa, madu atau air putih. Racikan pembollo ini digunakan untuk mengobati demam, cacar, diare, panas dan sarampa.

Selain pembollo ada juga pejappi, racikan tanaman yang digunakan sebagai P3K bagi bayi yang baru dilahirkan. Pejappi ini menjadi antisipasi pengobatan pertama untuk bayi yang baru lahir. Pejappi ini terdiri dari kunyit, kayu manis, panini dan kariango yang diberikan kepada bayi setelah dilahirkan. Pejappi ini bermanfaat untuk mengobati demam, batuk dan diare. Bagi masyarakat adat Kaluppini, pejappi juga dipercaya untuk melindungi bayi dari gangguan-gangguan dari hal-hal supernatural. Aturannya, pejappi ini ditaruh di ayunan bayi dan tidak boleh dilangkahi kucing.

Baik pembollo dan pejapi akan diracik dan diberi jampi atau doa oleh Sando Pea, seorang dukun dalam lingkungan masyarakat adat Kaluppini. Jampi ini adalah hantaran doa yang dipanjatkan untuk meminta kesembuhan atas penyakit yang diderita oleh anak atau pun bayi.

Penggunaan tanaman-tanaman ini sebagai obat, bukanlah mitos dan isapan jempol semata untuk mengobati penyakit pada anak. Pasalnya, setelah diteliti di dunia medis, tanaman-tanaman tersebut memang memiliki khasiat herbal. Bahkan jenis-jenis tanaman tersebut telah dianjurkan menjadi tanaman obat keluarga sebagai bahan-bahan pengobatan awal. Dengan demikian, kita bisa meminimalisir konsumsi obat-obatan yang banyak mengandung zat kimia, yang justru jika dikonsumsi secara berlebih akan memberikan dampak negatif bagi tubuh. Dari sini, kita bisa melihat bahwa budaya tradisi yang dijaga dan dijalani oleh masyarakat nusantara merupakan cara mereka dalam beradaptasi dan mempertahankan hidup.

 

Sumber:

Mongabay

Peta Pengetahuan Tiga Suku Bangsa di Sulawesi Selatan dalam Pemanfaatan Pengobatan Alternatif Sengatan Lebah. Suriah. Universitas Indonesia.

Penggunaan Tanaman sebagai Obat di Daerah Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. B. Dzulkarnain, Sa’roni, Pudjiastuti, Adjirni

Keragaman Jenis Tumbuhan Obat Indigenous di Sulawesi Selatan. Elis Tambaru. Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Universitas Hasanuddin

Pengobatan Tradisional Orang Bugis-Makassar. S Dloyana Kusumah. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Informasi Lebih Lanjut:

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Previous post

Pijat dan Ramuan Herbal Suwuk

Next post

Variasi Kuliner Tradisi Patut Dijadikan Menu Bekal Favorit

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.