#KodeNusantara#NusaKulinerBerita

Mendalami Filosofi Hidup dari Kuliner Tradisi Masyarakat Jawa

Sebentar lagi Hari Pendidikan Nasional akan tiba. Sebuah hari peringatan kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa. Semboyan tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberi dorongan dan arahan) juga berasal dari Bapak Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara dalam menjalankan gerakan pendidikannya.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan dalam memaknai hari pendidikan adalah mempelajari kembali dan mendalami filosofi dan ajaran kehidupan tradisi budaya kita. Sejatinya, kebudayaan tradisioal masyarakat di Nusantara menyiratkan ajaran-ajaran dan filosofi yang adiluhung dan patut untuk digali kembali dan diterapkan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang.

Salah satu sumber ajaran hidup yang diwariskan nenek moyang kita di tanah Jawa adalah pesan-pesan yang tersisip dalam kuliner tradisionalnya. Berikut filosofi hidup yang bisa kita pelajari dari kuliner tradisional:

Tumpeng : Metu Dalan Kang Lempeng


Ajaran hidup yang ingin disampaikan yakni, menjalani hidup melalui jalan yang lurus. Kuliner yang berbentuk kerucut layaknya gunung ini senantiasa diadakan pada upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, pembangunan rumah dan panen. Hal ini sebagai pengingat bahwa manusia harus menjaga gunung, karena gunung diyakini sebagai tempat bersemayamnya penguasa alam semesta.

Jika dipikir secara ilmiah, pesan ini sungguh mengarahkan manusia menjaga gunung dan melindungi dari kerusakan, karena dari gunung lah sumber mata air murni mengalir dan air adalah sumber kehidupan. Jika gunung rusak, sumber air pun hilang, dan musnahlah kehidupan di bumi.

Kupat: Ngaku Lepat


Kupat yang kita kenal sebagai hidangan wajib pada saat hari raya Idul Fitri diyakini telah dikenal sebalum masuknya Islam ke Nusantara. Menurut cerita, kupat ini dijadikan media berdakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam.

Dari makanan ini kita diajarkan untuk mengakui kesalahan yang kita perbuat (ngaku lepat). Sikap mengakui kesalahan ini diterapkan dalam tradisi sungkeman pada saat hari raya Idul Fitri. Sungkeman mengajarkan anak akan kewajiban untuk bersikap hormat dan rendah hati kepada orang tua. Sungkeman juga mengajarkan anak agar memohon keikhlasan dan ampunan orang tua.

Melalui tradisi sungkeman ini juga kita diingatkan bahwa orang tua adalah orang paling penting dan paling berjasa dalam hidup kita. Kita pun tak boleh menyakiti hati orang tua. Hanya dengan restu orang tua, kita bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ajaran untuk mengakui kesalahan juga diterapkan dengan tradisi saling meminta maaf.

Lemper: Yen Dielem Atimu Ojo Memper


Kuliner yang terbuat dari ketan ini mengandung simbol ajaran-ajaran luhur. Lemper mengajarkan pentingnya sikap rendah hati. Lemper, yen dielem atimu ojo emper, artinya ketika kita mendapat pujian dari orang lain, hati kita tidak boleh menjadi sombong atau membanggakan diri. Meskipun kita dipuji kita harus tetap rendah hati.

Ketan, bahan utama untuk membuat lemper juga memiliki makna yang mendalam. Ketan, ngraketaken paseduluran, artinya adalah merekatkan persaudaraan. Ya tentu saja, ketika kita tetap rendah hati dan tidak sombong maka tali persaudaraan akan tetap terjaga dan terjalin harmonis.

 

Sumber:

Belajar dari Makanan Tradisional Jawa

Hari Pendidikan Nasional

Liputan 6

 

Bacaan lebih lanjut:

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Kuliner Tradisional Nusantara

Previous post

Belajar dari Falsafah Hidup Masyarakat Bugis Makassar

Next post

Karya Remaja Masa Kini melalui Pementasan Sidhyatra

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *