Blog

Empat Perempuan Tangguh Selain Kartini

Raden Ajeng Kartini dikenal karena perjuangannya dalam emansipasi wanita. Dia gigih dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita pada masa penjajahan Belanda. Kartini sebagai sosok perempuan pejuang memiliki latar belakang politis. Kartini dipilih sebagai Pahlawan Nasional Perempuan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Tahun 1964 yang ditandatangani Presiden Soekarno dengan berunsur politik etis. Kartini adalah sosok yang dimunculkan oleh Pemerintah Belanda untuk mengendalikan kaum perempuan di awal tahun 1900-an. Namun ada juga perempuan-perempuan tangguh selain Kartini, yaitu:

 

1. Dewi Sartika

Dewi Sartika sangat peduli terhadap pendidikan. Sebelum Kartini mendirikan Sekolah Kartini, ternyata ada Sakola Istri atau Sekolah Perempuan yang sudah berdiri terlebih dahulu yang didirikan oleh Dewi Sartika yaitu pada saat dia berusia 20 tahun. Sekolah itu bertujuan untuk memerdekakan kaum perempuan dari ketidakmandirian dan kebodohan, serta mengajarkan bahasa Belanda.

 

 

 

 

 

 

2. Tjoet Nyak Dhien

Tjoet Nyak Dhien berasal dari Aceh. Dia dikenal cukup garang dalam melawan penjajah. Dia bersama sang suami yaitu Teuku Umar berjuang melawan Belanda dengan menghunuskan rencongnya. Walaupun suaminya gugur di medan perang, dia hanya berujar bahwa sebagai perempuan Aceh tidak boleh menumpahkan air mata kepada orang yang sudah syahid.

 

 

 

 

 

 

3. Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 18 September 1910 dan tumbuh di tengah berkembangnya gerakan nasionalise, marxisme, dan Islam modernime di sana. Namun itu tidak membuat semangatnya ciut untuk berjuang mengusir Belanda melalui Partai Muslimin Indonesia (Permi) yang membuatnya dekat dengan koran dan orasi politik. Pidato-pidatonya dikenal begitu menyulut semangat kemerdekaan yang membuat belanda tidak senang dan membuatnya dipenjara. Seusai dipenjara, dia mendirikan koran bernama Raya yang membuat Belanda terancam.

 

 

 

 

4. Wan Moy dan Auw Tjoei Lan

Han Wan Moy juga punya andil besar dalam perjuangannya Indonesia sejak usia 13 tahun dengan cara merawat para prajurit yang terluka karena dia aktif dalam Palang Merah Indonesia. Sedangkan Auw Tjoei Lan berjuang melindungi gadis-gadis asal Macau dan Tiongkok Selatan yang menjadi korban penyelundupan ke Batavia untuk dijadikan pelacur, yang kemudian ditampung di Roemah Piatoe Ati Soetji. Atas ketulusannya, dia diberi penghargaan kehormatan Ridder in de Orde van Oranje Nassau.

 

Sumber:

indonesianyouth

Dewi Sartika

Tjoet Nja’ Dhien

Rasuna Said

Wan Moy

inilahduniakita

Previous post

Opu Daeng Risadju, Sosok Kartini dari Bugis

Next post

Watak Perempuan Bugis Makassar dalam Tarian Pakarena

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.