#KodeNusantaraBerita

“Manusia Perahu” Suku Bajo Punya Tradisi Unik untuk Merawat Laut

Belakangan tahun terakhir tentunya kita sudah sering mendengar dan membaca berita tentang ancaman-ancaman kerusakan lingkungan dan bencana-bencana yang ditimbulkan akibat lingkungan yang memang telah rusak. Misalnya saja banjir, pencemaran air, erosi pantai, polusi udara hingga perubahan iklim. Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah hal ini terjadi karena pembangunan? Atau karena tidak ada sistem untuk menjaga lingkungan? Atau ditinggalkannya sistem tradisi untuk merawat dan menjaga lingkungan?

Masyarakat tradisi di nusantara sesungguhnya telah memiliki tradisinya masing-masing untuk menjaga dan merawat lingkungannya sebagai tempat hidup. Sayangnya tradisi ini sudah kian memudar seiring dengan modernisasi dan menurunnya jumlah masyarakat tradisi yang terus menjalankan aturan-aturan tersebut. Mungkin, ini pula lah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan yang kita ketahui akhir-akhir ini.

Sumber: Sindo TV Kendari

Ada contoh yang unik dan menarik dari Suku Bajo di Sulawesi Tenggara dalam menjaga lingkungan tempat tinggalnya. Suku ini dikenal sebagai “Manusia Perahu” atau seanomade. Mereka tinggal dan menetap di atas perahu, di perairan Sulawesi Tenggara.  Sejak lahir, keturunan Suku Bajo sudah dikenalkan dengan kehidupan di atas permukaan air. Mereka melakukan seluruh aktivitasnya di atas perahu. Untuk memenuhi kebutuhan pangannya, mereka mendirikan tambak terapung dan bertani rumput laut.

Masyarakat Suku Bajo memiliki prinsip untuk menjaga dan merawat laut sebagai sumber kehidupannya. Laut merupakan cermin dari kehidupan masa lalu, kekinian, dan harapan masa depan. Laut juga dianggap sebagai kawan, jalan, dan persemayaman leluhur. Karena dekat dengan kehidupan laut, bayi dari keturunan suku Bajo yang baru lahir sudah dikenalkan dengan laut.

Suku Bajo juga memiliki filosofi tentang kesakralan laut berbunyi, “Papu manak ita lino bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana”. Artinya, Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, manusia memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya.

Oleh karena itu, orang Baju melestarikan sumber daya laut dengan cara menanam bakau di kawasan pesisir pantai, seperti yang terjadi di Sinjai Timur, Sulawesi Selatan. Sepanjang pantai ditanami bakau hingga 800 meter yang menjurus ke laut. Upaya penanaman hutan bakau ini boleh dibilang siasat mitigasi. Selain itu, etnis bajo juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian terumbu karang sebagai penyangga ekosistem bawah laut, seperti di Kabupaten Wakatobi. Termasuk dalam menangkap ikan.

Itulah cara-cara masyarakat suku Bajo untuk menjaga kelestarian lingkungannya. Namun saat ini diperkirakan jumlah Suku Bajo semakin sedikit, mereka sudah mulai hidup menepi di pesisir pantai dan mendirikan rumah panggung dari kayu, anyaman bambu dan daun rumbia yang ramah lingkungan.

 

Sumber:

Guru Honorer

SINDO Kendari

 

Informasi lebih lanjut:

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Previous post

Keharmonisan Rakyat Bali dalam Sistem Irigasi Subak

Next post

Fenomena Golan-Mirah, Dua Sungai yang Tak Bisa Menyatu

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.