BeritaBlog

Wyn Sargent-Obahorok: Drama Pernikahan Wanita AS dan Kepala Suku Pedalaman Papua

Pernikahan, sebuah momen sakral dalam kehidupan manusia yang idealnya dilakukan atas nama cinta. Motif pernikahan di luar cinta biasanya menimbulkan pertanyaan ataupun stigma negatif dari masyarakat sekitarnya.

Kita mungkin sering mengenal istilah gold digger, kawin kontrak hingga pernikahan politik. Ketiga hal tersebut dianggap menodai elemen cinta yang menjadi batang tubuh sebuah pernikahan.

Lalu bagaimana jika pernikahan dilakukan atas nama perdamaian?

Inilah yang dilakukan Wyn Sargent, seorang jurnalis asal California, Amerika Serikat. Pada awal tahun 1973 ia menikahi Obahorok, Kepala Suku Dani di pedalaman Irian Barat (saat itu Papua masih disebut Irian Barat).

Alasannya?

“Pernikahan tersebut dilakukan hanya karena satu alasan, untuk menciptakan kedamaian dan harmoni diantara 3 suku yang berkonflik,” ungkap Sargent kepada New York Times.

Kedatangan Sargent ke Papua pada awalnya adalah untuk melakukan penelitian terhadap kehidupan suku-suku di pedalaman Papua. Namun kehadirannya ini menimbulkan berbagai kecurigaan diantara sejumlah suku setempat meski ada pula yang menerimanya dengan baik dan berjanji akan memberikan perlindungan.

Suku-suku di sana akhirnya terpecah karena ingin mengambil tindakan tersendiri terhadap keberadaan Sargent. Disinilah aksi ‘nekat’ Sargent muncul.

Setelah berusaha memahami keinginan masing-masing suku yang bertikai, Sargent memutuskan untuk menikahi kepala suku Dani, Obahorok. Hal ini dianggap akan mencegah terjadinya perang antar suku.

Sargent mengaku bahwa ia tak pernah melakukan hubungan seksual selama menjadi istri Obahorok. Pernikahan antar keduanya hanya bersifat simbolis dan saat itu Obahorok juga telah memiliki 6 istri.

Dikutip dari Kompas, pernikahan antar keduanya pun berlangsung singkat karena permohonan perpanjangan visa Sargent ditolak Ditjen Imigrasi yang masa berlakunya habis pada 17 Februari 1973.

Lalu apa temuan Sargent selama hidup bersama masyarakat disana?

Terkait praktik kanibalisme yang diisukan terjadi, Sargent mengaku tak melihatnya namun ia mendengar beberapa kabar terkait orang-orang yang dipenjara karena melakukannya. Kanibalisme juga dilakukan bukan untuk kebutuhan fisik namun untuk mempermalukan musuh.

Menyinggung kehidupan seksual, Sargent menyebut bahwa ketertarikan masyarakat terhadap aktivitas seks cukup rendah. Bahkan seorang  wanita yang baru melahirkan anak akan berhenti berhubungan seksual dengan suaminya selama 5 tahun dan pada umumnya pria tidur di tempat terpisah dengan wanita.

Pengorbanan Sargent menciptakan kedamaian dan hasil penelitiannya memang patut di apresiasi. Namun ada banyak tuduhan negatif yang mengarah kepadanya.

Ada kecurigaan bahwa Sargent adalah mata-mata asing dan sengaja mengobarkan perpecahan antar suku.

Buku “People of The Valley” (Foto: abebooks.com)

Ada pula yang menganggap Sargent memanfaatkan pernikahannya dengan Obahorok sebagai media untuk mengangkat popularitasnya dan juga bukunya yang berjudul “People of The Valley”.

Entah mana yang benar, tapi paling tidak kisah perjalanan Sargent ini bisa menjadi media untuk memahami masyarakat pedalaman Papua secara lebih baik.

 

Sumber:

New York Times

merdeka.com

Kompas

Previous post

Tari Nusantara Manakah yang Sesuai Kisah Cintamu? Romantis atau Pilu?

Next post

Tari Bondan, Perwujudan Kasih Sayang Ibu Kepada Anak

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.