#KodeNusantara#NusaKulinerBeritaBlog

Kain Ini Biasa digunakan Sebagai Alat Pengobatan Suku Banjar

Mungkin kalian berpikir kalau kain hanya bisa digunakan untuk membuat pakaian atau melindungi diri dari udara panas maupun dingin. Tapi,  bagi masyarakat Suku Banjar, Kalimantan Selatan, kain dijadikan sebagai alat pengobatan. Orang Banjar biasa menyebutnya sasirangan.

Kain Sasirangan merupakan kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun sejak abad XII, saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan, kain Sasirangan pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu. Menjelang akhir tapanya, rakitnya tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di tempat ini, ia mendengar suara perempuan yang keluar dari segumpal buih. Perempuan itu adalah Putri Junjung Buih, yang kelak menjadi Raja di daerah ini. Sang Putri hanya akan menampakkan wujudnya jika permintaannya dikabulkan, yaitu sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 putri dengan motif wadi/padiwaringin sebagai syarat ketika ia akan menggelar acara perkawinan agung dengan Pangeran Suryanata, pendiri dinasti pertama Negara Dipa.

Awalnya sasirangan dikenal sebagai kain untuk “batatamba” atau penyembuhan orang sakit yang harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan) sehingga pembutan kain sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, Urang Banjar seringkali menyebut sasirangan kain pamintaan yang artinya permintaan. Di awal-awal kemunculannya, kain sasirangan mempunyai bentuk dan fungsi yang cukup sederhana, seperti ikat kepala (laung), sabuk dan tapih bumin (kain sarung) untuk lelaki, selendang, kerudung, udat (kemben), dan kekamban (kerudung) untuk perempuan.

Selain untuk kesembuhan orang yang tertimpa penyakit, kain ini juga merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Dahulu, pewarnaan kain sasirangan sesuai juga dengan tujuan pembuatannya, yakni sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan suatu jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang. Disetiap warna kain sasirangan terdapat makna yang menggambarkan penyakit yang sedang diderita, arti warna sasirangan tersebut ialah:

  1. Kain sasirangan warna kuning merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit kuning (bahasa Banjar kana wisa).
  2. Kain sasirangan warna merah merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit kepala, dan sulit tidur (insomnia).
  3. Kain sasirangan warna hijau merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit lumpuh (stroke).
  4. Kain sasirangan warna hitam merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal.
  5. Kain sasirangan warna ungu merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit perut (diare, disentri, dan kolera).
  6. Kain sasirangan warna coklat merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit tekanan jiwa (stress).

Dan untuk proses pewarna memakai bahan-bahan alami seperti diberi warna dengan zat pewarna dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan atau sengaja ditanam di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan itu sendiri. Ada 6 warna utama kain sasirangan yang dibuat dari zat pewarna alami dimaksud, yakni :

  1. Kuning, bahan pembuatnya adalah kunyit atau temulawak.
  2. Merah, bahan pembuatnya adalah gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba (sonokeling, pen).
  3. Hijau, bahan pembuatnya adalah daun pudak atau jahe.
  4. Hitam, bahan pembuatnya adalah kabuau atau uar.
  5. Ungu, bahan pembuatnya adalah biji buah gandaria (bahasa Banjar Ramania, pen).
  6. Coklat, bahan pembuatnya adalah uar atau kulit buah rambutan.

Agar warnanya menjadi lebih tua, lebih muda, dan supaya tahan lama (tidak mudah pudar), bahan pewarna di atas kemudian dicampur dengan rempah-rempah lain seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, atau terusi. Motif kain Sasirangan ini mirip dengan motif jumputan khas Palembang dan Jawa. Namun di Palembang dan Jawa kain ini tidak digunakan untuk pengobatan. Kain Sasirangan ini menggunakan bahan yang sangat ramah lingkungan, bila dibandingkan dengan proses pewarnaan kain masa kini dengan pabrikasi bahan kimia. Hal ini bisa juga dijadikan acuan untuk membangun sebuah industri kreatif yang berbasis lingkungan. Pengkajian tentang pengobatan kain sasirangan ini perlu dilakukan untuk mengangkat budaya lokal dalam ranah dunia pengobatan.

Mau tahu kain-kain khas indonesia lainnya? kunjungi www.budaya-indonesia.org


Sumber: Budaya-indonesia.org

Previous post

Masakan Unik, Sayur Buah Pisang Khas Kalimantan

Next post

Si Mungil dari Singkarak yang Hampir Punah

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.