#KodeNusantaraBerita

Ikipalin; Ungkapan Kesedihan Suku Dani

Waktu hidup manusia di dunia tidak dapat diprediksi, ada yang akan pergi mendahului kita atau pun bersama hingga akhir hayat. Berduka mungkin menjadi tahapan tersulit dalam hidup. Oleh karenanya setiap manusia bebas memilih dan menentukan sendiri caranya untuk melewati masa duka tersebut. Ada yang masih menyimpan barang peninggalan orang tersebut dalam satu dua bulan, rutin mendatangi makam, atau menyimpan foto kenangan di dalam dompet dan berbagai cara lainnya yang mungkin di luar nalar kita. Begitupun dalam budaya Indonesia, ada berbagai ritual adat yang khas ketika orang terdekat meninggal dunia, sebagai contoh yang mungkin sering kita dengar dan lihat di layar televisi adalah Upacara Rambu Solo di Toraja. Namun, tahukah kamu ada ungkapan kesedihan yang begitu mendalam dalam budaya Indonesia lainnya? Salah satunya adalah Ikipalin. Apa itu Ikipalin?

 

Ikipalin adalah salah satu tradisi yang ada di Papua, dimana kerabat yang ditinggalkan melakukan pemotongan jari sebagai ungkapan kesedihan mereka karena ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang yang mereka sayangi. Suku yang melakukan tradisi tersebut adalah Suku Dani.

Suku Dani  merupakan sebuah suku yang mendiami suatu wilayah di Lembah Baliem, pedalaman Papua. Suku Dani menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam dan beternak babi. Suku Dani dipimpin oleh seorang kepala suku besar yaitu Ap Kain. Suku dani inilah yang melakukan tradisi Ikipilin sebagai ungkapan kesedihan  mereka.

Tradisi yang dapat kita katakan cukup ekstrem ini dilakukan apabila ada salah satu anggota keluarga atau kerabat dekat yang meninggal dunia seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, dan adik. Pemotongan jari ini merupakan kewajiban bagi Suku Dani sebagai simbol sakitnya saat kehilangan anggota keluarga, dan untuk mencegah “terulang kembali” malapetaka yang telah merenggut nyawa anggota keluarga mereka.

Ternyata jari memiliki filosofi tersendiri bagi Suku Dani. Bagi Suku Dani, jari merupakan simbol kerukunan, kesatuan, dan kekuatan dalam diri manusia maupun keluarga. Bentuk jari yang berbeda merupakan satu kekuatan dalam membantu semua beban pekerjaan manusia. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengurangi kinerja tangan. Jadi, apabila salah satunya hilang maka berkuranglah kekuatan yang ada. Filosofi jari ini yang membangun semangat kebersamaan dan kesatuan Suku Dani.

Ada sebuah pedoman dasar hidup Suku Dani, yaitu ‘Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik’. Pedoman ini memiliki arti untuk tetap bersatu baik dalam suka maupun duka. Pedoman inilah yang lantas menjadi landasan masyarakat Suku Dani untuk memotong jarinya, karena adanya anggapan bahwa kesedihan yang mendalam dan luka hati ditinggal mati oleh keluarga, baru akan sembuh apabila luka jari yang dipotong sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Tindakan yang amat manis namun menyayat hati yah.

Ikipalin ini pun dapat dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak, atau parang. Ada juga yang mengikatnya dengan seutas tali beberapa lamanya sehingga aliran darah terhenti dan jaringan ruas jari menjadi mati kemudian dipotong. Ada pula yang lebih ekstrem, yaitu menggigit ruas jari hingga putus.

Mugkin dalam benak kalian akan timbul pertanyaan, apa sekarang Ikipalin ini masih dilakukan?

Tenang, seiring dengan kemajuan zaman dan pengaruh agama yang sudah masuk hingga ke Lembah Baliem membuat tradisi Ikipalin ini sudah mulai ditinggalkan. Masyarakat Suku Dani sendiri sudah jarang yang melakukan tradisi ini, kini yang ada hanya tinggal sisa bekas luka di ruas jemari yang sempat dilakukan dahulu kala oleh banyak lelaki dan wanita tua Suku Dani, sebagai wujud pewarisan dan pengenalan tradisi potong jari.

Apa yang dilakukan Suku Dani amat sangat manis namun juga menyimpan kesedihan yang begitu mendalam ya. Jika di daerahmu bagaimanakah cara berkabungnya?

 


Lebih jauh tentang:

 

Ritual

Ikipalin

Suku Dani

Previous post

Tatung; Tradisi Pawai Atraksi Ekstrem Singkawang

Next post

5 Kuliner Indonesia Berbahan Dasar Santan Kelapa Terenak

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.