#KodeNusantaraBerita

Refleksi #KodeNusantara pada International Health Day

Di dalam buku Kode-kode Nusantara (Expose Mizan, 2016) terdapat sekurangnya sepuluh ilustrasi penelitian yang membongkar informasi metadata yang terkodedakan dalam budaya Indonesia. Itulah sebabnya ajakan untuk membacanya adalah ajakan untuk menjelajahi ranah budaya tradisional Indonesia yang selama ini masih seolah tertutup kabut ketidaktahuan kita.

Awan kabut yang melingkupi budaya tradisional kita kebanyakan adalah mistisisme. Mistisisme ini tidak menghilang di era sains dan teknologi informasi ini, malah justru menguat. Era industrialisasi dan teknologi modern dikenal banyak memberikan dampak-dampak negatif baik bagi kesehatan sosial maupun kesehatan hayati. Berbagai variasi polusi (udara, suara, air, tanah, dan lain-lain) hingga bermacam-macam dampak teknologi adalah wajah modernisme kita, yang seolah menyeimbangkan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi itu. Krisis ini ditambah dengan berbagai berbagai banjir berita-berita hoax, pseudo-sains, di tengah era informasi, sehingga mistisisme justru malah menguat.

Dunia menyaksikan seorang “ahli jamu tradisional Tiongkok” yang dihadiahi Nobel 2015 yang lalu oleh temuanya pada tahuan 1960-an atas artemisin sebagai obat alternatif penyakit malaria. Konon dalam penelitiannya, Youyou Tu, meneliti ribuan resep dan ratusan ekstrak herbal tradisional Tiongkok yang dari generasi ke generasi dipercaya menyembuhkan demam. Apa yang menjadi mistisisme dan diketahui hanya dalam sebatas kepercayaan tradisional dataran Tiongkok distrukturkan dalam kacamata farmasi modern dan hasilnya adalah substansi perawatan medis yang mendunia. Beberapa redaksi penerbitan sains dunia saat itu menyebutkan bagaimana “pengetahuan tradisional memberikan inspirasi bagi ilmu pengetahuan modern”. Sejak saat itu hingga saat ini, begitu banyak kajian modern ilmu kesehatan mengkaji herbal (Eropa), kampō (Jepang), pengobatan veda (India), fitoterapi (Amerika Utara), hingga ramuan seperti gingseng (Korea), dan tentu saja jamu dari Indonesia.

DI hari kesehatan internasional 7 April 2017 ini, kita tengah menyaksikan bagaimana berbagai penelitian modern telah melirik pengobatan tradisional dari berbagai penjuru dunia. Namun pada hari ini pula kita perlu menyadari betapa kayanya kepulauan Indonesia dengan berbagai pengobatan alternatif, pemeliharaan kesehatan hingga kecantikan, yang kita telah warisi sejak ribuan tahun lalu.

Negeri kepulauan yang terserak dalam lautan luas di kawasan tropis telah menumbuhkan berbagai jenis rempah di Indonesia. Di ribuan pulau-pulau itu pula kelompok masyarakat hidup dalam tradisi, adat istiadat, belajar secara kolektif dengan trial bergenerasi-generasi. Dari hampir 2000 resep makanan dan minuman yang sudah dikumpulkan oleh Sobat Budaya hingga 2016 saja, tercatat ratusan rempah yang membedakan antara satu soto di satu kawasan dengan soto di kawasan lain, antara hidangan sate di satu kelompok etnis dengan sate di kelompok etnis lain. Rempah-rempah itulah yang menjadi keunikan resep makanan/minuman, dan itu pulalah sumber esensial dari jamu-jamuan tradisi kita.

Sungguh sayang, sebagaimana halnya batik, arsitektural tradisional, anyam-anyaman, tenun, hingga musik, pemeliharaan kesehatan cenderung juga masih jamak dipandang sebagai tradisi masa lalu belaka. Ia belum dipandang sebagai “informasi” yang jika dikelola dengan kacamata penggalian pengetahuan, ia dapat memberikan bahkan tak hanya sumber inspirasi hidup sehat modern, namun juga sumber kekuatan ekonomi negara saat ia secara praktis menjadi substansi hidup sehat umat manusia.

Di hari kesehatan internasional 7 April 2017 ini, kita ditantang untuk melihat pemeliharaan kesehatan tradisional dalam warisan budaya kita sebagai informasi. Informasi yang disimpan dalam gotong-royong dan partisipasi di Perpustakaan Digital Budaya Tradisional Indonesia (PDBI) www.budaya-indonesia.org. Setelah itu, kita tinggal menantikan karya-karya intelektual modern dapat terinspirasi demi kehidupan umat manusia yang lebih sehat dan bahagia.

Dengan demikian, kita yang hidup sebagai generasi modern turut serta menjadi penjelajah #KodeNusantara, yang menjelajahi khazanah budaya tradisi yang tergolong paling beragam se-dunia ini, perlahan menghilangkan kabut mistisisme dan pseudosains yang selama ini menutupi cahaya inspirasi kekayaan warisan budaya kita.

Saatnya melestarikan budaya tradisional dengan cara-cara yang tak lagi tradisional.

Salam Budaya,

Mari bergotong royong melestarikan budaya tradisi melalui Gerakan Sejuta Data Budaya #GSDB bersama @sobatbudaya

Mencintai Indonesia, Menginspirasi Dunia!

Previous post

Pendaftaran Peserta SabangMerauke 2017 Telah Dibuka

Next post

Ekskursi Techno Culture Tour #KodeNusantara: Edisi Situs Megalitikum Gunung Padang

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.