#KodeNusantaraBerita

Menjelang Grand Launching Buku “Kode-Kode Nusantara”

Sobat Budaya akan mengadakan Grand Launching buku “Kode-Kode Nusantara” karya Hokky Situngkir pembina Sobat Budaya. Acara Grand Launching ini akan diadakan dan ditayangkan di I News. Untuk menyukseskan Grand Launching ini, Sobat Budaya mengundang panelis-panelis yang ahli di bidangnya seperti peneliti-peneliti belia dari SMA Lazuardi GIS yaitu, Mas Reva R. Putradirdja, Tahira Atika Putri Afzal, Luthfiah Dien, dan Asti Aulia Tistiana. Mereka telah melakukan penelitian seputar “Returning Sundanese Culture to Achieve River Sustainability to Cikapundung River Using Agent-Based Simulation.”

Maksud Sobat Budaya mengajak peneliti belia untuk menjadi panelis di acara Grand Launching Buku “Kode-Kode Nusantara” adalah agar masyarakat khususnya anak muda agar peduli dengan budaya Indonesia dan memperkenalkan bahwa budaya Indonesia itu sangat kaya dan bisa di jadikan contoh untuk kehidupan sosial dan lingkungan kita.

Oleh karena itu, Tim Goes To School Sobat Budaya mendatangi SMA Lazuardi untuk mewawancarai Kepala Sekolah, Pembina ekstrakulikuler dan peneliti belia supaya kita lebih tahu bagaimana cara mendidik anak-anak didik mereka agar bisa berprestasi di kancah Internasional.

Tentang Peneliti Belia

Pak Agus Purwanto Kepala Sekolah SMA Lazuardi yang sering di sapa Pak Pur menuturkan, “Awal mula berdirinya program peneliti belia di SMA Lazuardi adalah karena kita ingin membuat sekolah yang berbeda dengan sekolah lain oleh karena itu muncul lah ide SMA Lazuardi sekolah yang berbasih riset. Tanggapan masyarakat terhadap peneliti belia sangat baik karena riset mereka sangat bermanfaat untuk masyarakat karena sungai cikapundung Bandung sudah bersih dan masyarakat bisa menggunakan air sungai tesebut”.

Pak Deni, Pembina Club Research SMA Lazuardi menambahkan bahwa Langkah-langkah yang disiapkan sekolah untuk menciptakan peneliti belia di SMA Lazuardi ada beberapa tahap. Awalnya pada saat kelas 10 para siswa diberi tugas karya ilmiah dan pada saat kelas 11 dipilih karya ilmiah siswa yang layak untuk dijadikan riset.

Para peneliti belia ini meneliti tentang “Returning Sundanese Culture to Achieve River Sustainabilty to Cikapundung River Using Agent-Based Simulation “. Penelitian disini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah popolasi yang tinggal dekat sungai dengan jumlah sampah yang berada di sungai. Mereka memakai sebuah sistem program yang bernama NetLogo untuk mendata pengaruh tersebut. Ide ini didapat dari rasa keingintahuan peniliti mengenai perubahan drastis yang terjadi pada sungai Cikapundung.

Sungai Cikapundung yang berada di Bandung awalnya merupakan sungai yang mempunyai air bersih namun seiring berjalanya waktu, air sungai ini menjadi hitam dan dipenuhi sampah. Kemudian, walikota Bandung Ridwan Kamil mengubah sungai ini menjadi sebuah taman yang asri, yaitu teras Cikapundung. Dari sinilah muncul keingintahuan mereka mengenai perubahan sungai tersebut.

Mereka kemudian memasukan nilai – nilai budaya ke dalam penelitian tersebut, yaitu Tri tangtu dan Warugan lemah. Budaya tersebut merupakan budaya Sunda yang menanamkan nilai kedisiplinan hidup dengan mengistimewakan air sebagai suatu yang sakral. Isi Peraturan tersebut salah satunya tidak boleh membangun rumah dekat sumber air. Dari pengamatan yang mereka lakukan, yaitu mengamati adat dan budaya orang yang tinggal dekat sungai namun adat dan budaya tersebut sudah mulai pudar. Hal inilah yang dianggap mempengaruhi kebersihan sungai Cikapundung tersebut. Sungai tersebut yang awalnya bersih menjadi kotor seiring dengan pudarnya adat dan budaya masyarakat tersebut.

Uniknya, saat mereka mengenalkan penelitian mereka ke luar negri para pengunjung sangat antusias melihat stand mereka. Bahkan stand mereka-lah yang paling ramai dikunjungi dibandingkan yang lain. “ Mereka sangat tertarik pada saat kita menjelaskan orang sunda mendewai air “. Ucap Asti, salah satu peneliti belia saat ditanyai hal yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.

Ide yang sangat kreatif ini bisa digunakan untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Bukan hanya budaya saja yang dikenalkan namun bisa dikembangkan pula bahwa budaya dan pengetahuan mempunyai keterikatan yang sangat kuat.

 

Previous post

Walaupun Hujan Deras Festival Cap Go Meh Bogor Tetap Ramai

Next post

Bincang #KodeNusantara “Menelisik Sains di Balik Budaya Tradisi Nusantara”

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.