Blog

Sepenggal Tradisi Dibalik Kecantikan Gadis Mentawai

large-kerik-gigi-dan-simbol-kecantikan-di-suku-mentawai1455317955

Hakikat Wanita identik dengan Kecantikan. Menjadi cantik adalah dambaan setiap wanita karena wanita terlahir dengan fitrah menyukai kecantikan dan keindahan. Untuk menunjukkan eksistensinya, wanita membutuhkan pengakuan akan kecantikan sebagai bagian yang melekat pada dirinya. Persepsi modern saat ini, kecantikan dilibatkan sebagai komoditi keindahan fisik. Memiliki tubuh yang sempurna hingga beragam cara berdandan demi memuaskan mata para penikmat keindahan. Mendefinisikan Cantik adalah hal yang relatif dan bisa berbeda-beda. Setiap orang dapat memiliki pandangan dan penilaian yang berbeda mengenai ‘cantik’.

Indonesia memiliki sejuta budaya. Dibalik keberagaman budaya, terdapat tradisi nusantara yang mengekspresikan diri dalam symbol kecantikan. Suku Mentawai salah satunya. Terletak di pedalaman pulau Sumatra, Gadis Mentawai membingkai pola kebiasaan dalam tradisi kecantikan yang sangat unik. Tradisi ini bernama Kerik Gigi atau seringkali disebut praktik meruncingkan gigi bagi gadis suku Mentawai.

Tradisi Kerik Gigi dilakukan gadis mentawai sebagai bagian mempercantik diri hingga menjadi simbol kedewasaan seorang gadis. Memiliki kepercayaan unik bahwa wanita yang beranjak dewasa akan lebih terlihat cantik jika memiliki bentuk gigi yang runcing. Gadis dengan gigi runcing akan lebih digilai pria-pria di sekitarnya. Membawa pada keindahan hakiki dimata lawan jenisnya.

Tidak hanya kecantikan, tradisi Kerik Gigi diyakini sebagai pengantar jiwa Gadis Mentawai menuju Kedamaian. Mengantarkanya pada dunia yang berbeda dengan tafsir kehidupan abadi hingga melekatkanya nilai luhur nenek moyang yang terus terjaga. Pesona kecantikan Gadis Mentawai muncul dari keyakinan bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan, keinginan jiwa harus sejalan dengan bentuk tubuh. Setiap langkah akan menghadirkan pesona bagi lelaki yang memandangnya.

Kerik Gigi dimaknai sebagai lambang perjuangan dalam menemukan jati diri bagi Gadis Mentawai. Meskipun prosesi Kerik Gigi sangat menyakitkan, namun setiap gadis akan berusaha melalui setiap kesakitan sebagai bagian dari identitas perjalanan. Prosesi ini tanpa pembiusan atau (anastesi) bahkan alat yang dipakai untuk ritual ini tanpa melalui proses sterlisasi. Dilakukan oleh pimpinan adat, gigi mereka akan dikerik menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah mereka asah hingga tajam.

Inilah sepenggal tradisi dibalik hakikat Gadis Mentawai guna mencapai Kecantikan. Kecantikan adalah anugerah. Namun, cantik yang paling hakiki adalah kecantikan yang bukan hanya memancarkan keindahan melainkan kecantikan menjadikan wanita berdamai dengan dunia sekitarnya. Jadi apa lagi yang perlu dipertanyakan dari kecantikan. Setiap wanita mungkin bisa bangga dengan fisik sempurnanya, Namun sepenggal tradisi dari pedalaman Sumatera mengajarkan kita bahwa kecantikan memiliki definisi yang berbeda-beda dan sangat relatif. Cantik wajah memang indah dilihat, tetapi cantik hati akan jauh lebih terpancar. Berpenampilan sederhana, bersikap lemah lembut, sopan santun, hingga menjadi wanita mandiri akan memancarkan kecantikan.

Previous post

Culture Week GSDB, Pekan Perbincangan Budaya Nusantara

Next post

Sobat Budaya Menangkan Culturepreneur Award Njonja Meneer

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.