Blog

Membaca Tionghoa dalam “geometri” Batik Nusantara

infobudaya.net – Catatan sejarah menyatakan bahwa orang Nusantara telah berinteraksi dengan orang Tiongkok (setidaknya) sejak abad ke-5. Pada tahun 414 Fa-Hien, musafir Budha dari Tiongkok, telah mendeskripsikan tentang kehidupan masyarakat di Pulau Jawa (Gordon, 2015). Diketahui pula kemudiah bahwa, pada abad ke-6 hingga abad ke-10 interaksi antara Nusantara dan Tiongkok semakin massif.

Massivitas interaksi masyarakat Nusantara dengan orang Tiongkok terlihat dari berbagai pengaruh budaya Tiongkok di beberapa sendi kehidupan masyarakat Nusantara. Terdapat beberapa pengaruh budaya Tiongkok dalam gaya arsitektur, alat musik, tarian dan pakaian. Sebagai contoh di bidang arsitektur, arsitektur bangunan masjid yang dibangun pada abad ke-15 hingga ke-17 di Nusantara seperti Masjid Demak, Masjid Kudus, Masjid Mantingan dan Mesjid Banten juga terpengaruh dengan budaya Tiongkok

Lebih jauh, di alat musik gamelan misalnya, kita juga kerap menemukan corak motif naga. Pada gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Masjid Agung Surakarta, yang dibuat pada masa raja Sultan Agung pada tahun 1642, terdapat ukiran naga. Pengaruh ini juga ditemukan dalam seni musik tradisional, misalnya kesenian Gambang Kromong dari Betawi (Natasya, 2013). Gambang kromong adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan.

Beralih kepada topik pakaian dan motif batik Nusantara, Hokky Situngkir (2009) telah mempublikasikan hasil penelitian mengenai pengajian atas batik dengan melihat pola-pola geometris dalam desain batik Indonesia. Hasil penelitian tersebut terangkum dalam “kekerabatan batik di Indonesia”, Pohon Filomemetika (Situngkir, 2009). Pohon kekerabatan (filomemetika) motif batik Indonesia memperlihatkan pengelompokan batik berdasarkan kelompok etnis yang menghasilkan motif tersebut. Sampel desain Batik dari Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Riau hingga Bengkulu cenderung mengelompok berdasarkan daerah asalnya. Setiap daerah memiliki karakteristik yang khas.

Dalam pohon filomemetika batik tersebut, motif batik Nusantara dapat dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama adalah motif dari Rembang, Yogyakarta dan Solo. Kelompok kedua adalah batik dari wilayah Pekalongan, Cilacap, Banyumas dan Kebumen. Mereka umumnya berada di pesisir utara dan pesisir selatan wilayah Jawa Tengah. Bagian ketiga adalah batik-batik dari bagian barat pulau Jawa, seperti Tegal, Cirebon, Indramayu, Banten, Garut, dan Bandung.  Kelompok  keempat adalah motif batik di Pulau Jawa yang relatif jauh dari daerah pedalaman (seperti Pacitan, Madura dan Ciamis) serta batik-batik dari luar Pulau Jawa (seperti  Kalimantan Selatan, Papua, Riau, Jambi dan Bengkulu).

Beberapa motif batik di Nusantara tersebut terpengaruh pula oleh budaya Tiongkok. Hasil penelitian mengenai motif batik Nusantara yang  terpengaruh budaya Tiongkok akan dipresentasikan langsung oleh peneliti dalam acara Talkshow Budaya “Jejak Tiongkok dalam Batik Indonesia” yang diselenggarakan oleh Sobat Budaya Jakarta.

 

 

Dicuplik dan disadur dari tulisan Peneliti Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir & Rolan M. Dahlan, sebagai pengantar dalam Diskusi “Jejak Tiongkok dalam Batik Indonesia”, Sobat Budaya Jakarta, Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, 24 Juni 2015.

Previous post

Ketika Silat Kampung Menjadi Sebuah Budaya

Next post

Batik Nusantara Kaya Akan Budaya

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.